Downeez Center

Hikmah dan Motivasi

Hasan al-Bana Dengan Pencuri

Hasan al-Bana adalah salah seorang tokoh Islam kebangsaan Mesir yang sangat terkenal. Dia juga dikenal sebagai adalah tokoh pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin. Dia juga terkenal dengan ilmunya sangat luas serta kesalehannya kepada Allah. Di rumahnya terdapat perpustakaan yang mengoleksi ribuan jumlah buku.
Pada suatu malam, datanglah beberapa orang pencuri ke rumah Hasan al-Bana. Hasan al-Bana beserta keluarga disandra di dalam rumah oleh kawanan pencuri tersebut. Dengan demikian, secara leluasa para pencuri menguras isi rumah Hasan al-Bana.
Setelah selesai menguras ini rumahnya, para pencuri mulai melirik buku-buku yang ada di lemari Hasan al-Bana. Para pencuripun bergerak membuka lemari dan bermaksud mengambil buku-buku Hasan al-Bana. Ketika itulah Hasan al-Bana berkata, “Kalian boleh mengambil seluruh isi rumah ini semuanya, kecuali aku bermohon kepada kalian agar jangan mengambil satupun dari buku-buku saya ini. Sebab, buku-buku ini sangat berharga bagiku melebihi semua hartaku yang lain. Pada buku-buku ini tersimpan ilmu yang aku miliki”.
Salah seorang dari pencuri berkata kepada Hasan al-Bana, “Saya heran, baru kali ini saya melihat seorang ulama besar yang merasa takut buku-bukunya diambil. Saya tahu kenapa engkau takut buku-buku ini diambil, karena engkau belumlah meletakan ilmu yang ada pada buku-buku di dalam hati dan dadamu. Ilmu-ilmu itu masih tersimpan di dalam kertas-kertas ini. Ketahuilah, Hai Hasan al-Bana! Bahwa Ilmu itu ada di dalam dada, bukan pada kertas-kertas ini. Jika semua yang ada di kertas ini sudah engkau pindahkan ke dalam dadamu, tentulah ini semua tidak ada artinya bagimu dan tentu engkau tidak akan takut jika kertas-kertas ini dicuri oleh orang lain”. Setelah itu, para pencuripun menghilang dari pandangan Hasan al-Bana dan meninggalkan kembali semua miliknya.
Mendengarkan ucapan pencuri itu, Hasan al-Bana terdiam serta meminta ampun kepada Allah atas kelalaiannya terhadap ilmu. Dia menyesali dirinya yang tidak memindahkan ilmu yang ada di buku itu ke dalam dadanya.
Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran; Pertama, jika seseorang mencintai ilmu, maka tiadalah yang lebih berharga dalam pandangannya selain buku-buku. Dia akan rela menghabiskan uangnya, mengurangi belanjanya jika sudah mencintai buku dan ilmu. Bahkan, dia akan menjadi budak buku dan ilmu. Bagi seorang yang mencintai ilmu, maka buku baginya adalah teman di kala sendiri dan penghibur di saat kesusahan. Dalam sebuah bait prosanya al-Jahizh, salah seorang pujangga Abbasiyah pernah berkata
الكتاب هو الجليس الذي لا يطريك, والصديك الذي لا يغريك, والرفيق الذي يملك, والجار الذي لايستبطئك, والصاحب الذي لا يعاملك بالمكر, ولايخدعك بالنفاق, ولا يحتال لك بالكذب . الكتاب نعم الأنيس لساعة الوحدة, ونعم المعرفة ببلاد الغربة ونعم الوزير والنزيل . الكتاب وعاء ملئ علما, وظرف حشي ظرفا, وإناء شحن مزاحا وجدا
Artinya: “Buku adalah sahabat yang tidak pernah memuji berlebihan, teman yang tidak pernah menghasut, kawan yang tidak pernah membosankan, tetangga yang tidak pernah merasa terbebani, orang dekat yang tidak pernah menipu, bersikap munafik dan berbohong.
Buku sadalah sebaik-baik teman waktu sendiri, sebaik baik pengetahuan ketika terasing, dan sebaik-baik pembantu dan tamu. Buku adalah bejana yang penuh dengan ilmu, penuh kebaikan, kepandaian, senda gurau dan kesungguhan.”
Kedua, hendak seseorang meletakan ilmunya di dalam hati dan dadanya, bukan di atas kertas dan kumpulan kitabnya. Ilmu adalah nur dari Tuhan yang mesti diletakan dan disimpan di dalam hati, bukannya disimpan di dalam lemari. Begitulah pesan Tuhan ketika memberikan manusia alat untuk memperoleh ilmu, sekaligus mengajak manusia agar meletakan ilmu itu di dalam hatinya. Firman Allah dalam surat an-Nahl [16]: 78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Dalam ayat di atas Allah menciptakan tiga sarana untuk manusia, agar bisa memperoleh ilmu yang belum diketahuinya melalui proses belajar. Sarana itu adalah pendengaran (telinga), penglihatan (mata), dan hati sebagai muara terakhir tempat ilmu itu bercokol dalam diri manusia. Oleh karena itu, amat rugilah manusia yang tidak menempatkan ilmu di dalam hatinya, karena tujuan Allah memberikan hati kepada manusia tidak bisa diwujudkan manusia itu sendiri.

Januari 31, 2010 Posted by | Hikmah | | Tinggalkan komentar

Ibu…

Masih dalam suasana hari ibu, Aku berikan sujud bakti kepada ibuku tercinta nun jauh di sana. Maafkan putramu ini, atas segala salah dan dosa. Sungguh besar jasa dan pengorbananmu yang tiada terhitung dalam mengasihi, membesarkan dan mendidikku.

Jarak yang jauh membuatku tak dapat selalu berbaring di pangkuanmu. Tak dapat pula aku selalu menjagamu di setiap waktu, seperti engkau menjagaku selalu di waktu kecil.

Hanya doa dan harapan selalu tercurahkan kepadamu…
Semoga Ibu sehat selalu….

Desember 26, 2009 Posted by | Tulis Aja coy | 1 Komentar

Gempa…Padang…

Mengawali hari pertama di Bulan Baru ini (Okt’09: masehi) dengan ucapan Innalillahi wa Innailaihi Rojiun. Musibah kembali menyapa negeri ini. Selang sebualan setelah mengguncang jawa, kini saudara-saudara kita di sumatera ( Padang dan sekitarnya ) mengalami cobaan ini. Tak henti-hentinya negeri ini di beri musibah.

Semoga ini adalah sebuah cobaan dan ujian bagi mereka yang sabar menghadapinnya.

Semoga ini bukan adzab yang Allah turunkan pada negeri ini.

Kita perlu Interopeksi diri, berbenah diri serta segera memperbaiki semua tingkah laku kita.

Kepada para korban, semoga diberi ketabahan dan kesabaran.

Oktober 1, 2009 Posted by | Kejadian | 1 Komentar

Jangan Anggap Remeh Kemaksiatan… Lihatlah kepada Siapakah Anda Bermaksiat..?

Dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, kita melihat bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan;

Golongan pertama adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kebaikan… gemar melakukan kebajikan… suka dalam menjalani kema’rufan…

Golongan kedua adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kejelekan… gemar melakukan keburukan… suka dalam menjalani kemunkaran, maksiat dan dosa…

Yaa… demikianlah lingkungan di sekitar kita…

Ingat…! Allah Ta’ala telah memberikan peringatan kepada kita dengan tegas nan jelas… bahwa musibah akan terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan, tidak hanya menimpa para pelaku saja tapi akan menyeluruh kepada masyarakat sekitarnya… Allah menyatakan :

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan takutlah kalian terhadap fitnah (musibah, petaka, bencana, siksa) yang benar-benar tidak hanya menimpa orang-orang dhalim di antara kalian secara khusus. Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha dahsyat siksa-Nya.” (Al-Anfal:25)

Subhanallah sungguh peringatan yang Allah berikan bukanlah sebuah omong kosong yang tak bisa terjadi… yang tak mungkin terlaksana… sungguh janji Allah adalah sebenar-benar janji dan pasti terjadi… musibah pasti akan datang silih berganti… petaka pasti akan menimpa kita punya negeri… bencana pasti akan terjadi di sana-sini… siksa Allah pasti akan meluluhlantakkan bumi pertiwi ini… bila kemunkaran dilakukan… bila maksiat dibiarkan… bila dosa diacuhkan… bila pelakunya diagungkan… bila perbuatannya didukung dan dikendalikan… sungguh musibah akan menimpa diri kita semua…

Lalu bagaimana dengan diri kita, yang mengaku para pecinta kebenaran, para pendukung kema’rufan, para penggemar kebajikan, para pelaku kebaikan… Apakah kehidupan kita sudah terlepas dari kemunkaran…? Apakah amal baik kita sudah terbebas dari dosa…? Apakah kelakuan kita sehari-hari sudah murni tanpa kesalahan dan keburukan…? Sungguh naif bila kita mengaku sebagai pasukan pembasmi kemunkaran bila justru diri kita terjerumus dalam dosa dan maksiat… Sungguh jelek bila kita mengaku cinta kema’rufan bila diri kita masih terlena dengan bujuk rayu wanita dan harta… Sungguh dhalim bila kita mengaku gemar melakukan kebajikan bila diam-diam kita menjalani kejelekan dan keburukan… atau bahkan justru kitalah yang menjadi kunci atas turunnya musibah… karena kita tahu dan berilmu tapi justru kita melanggar dan melakukan maksiat… kita tidak mengamalkan ilmu yang kita peroleh dari guru-guru kita…

Yah… memang manusia sulit untuk terlepas dari lupa dan salah… sulit bagi manusia untuk terbebas dari kejelekan dan keburukan… kecuali bagi mereka yang Allah lindungi… mereka yang diberi Rahmat oleh Allah… mereka yang senantiasa ingat kepada Allah… mereka yang selalu menjaga diri dari keburukan dan kejelekan sekecil apapun…

Sungguh indah nasehat Ulama salaf kita…

لاَ تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيْئَةْ … وَلكِنْ اُنْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْتَهْ

Janganlah engkau melihat akan kecilnya suatu kesalahan.. Akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat..

Subhanallah sungguh indah nasehat ini…

Kepada kalian yang cinta kema’rufan…

Kepada kalian yang benci kemunkaran…

Semoga kehadiran nasehat ulama salaf di atas dapat menjadi renungan…

Yah…

janganlah engkau melihat akan kecilnya suatu dosa…

janganlah engkau melihat akan remehnya suatu kesalahan…

janganlah engkau melihat akan sepelenya suatu maksiat…

jangan…!!!

tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat…

Allah… Dia yang sedang engkau maksiati…

Allah… Dia yang sedang engkau durhakai…

Allah… Dzat yang telah menciptakanmu… justru engkau sedang melanggar aturan-aturannya…

Lihatlah… perhatikanlah… siapa yang sedang engkau maksiati… saudara…!

Astagfirullahal adzim min kulli dzanbil adzim…

Sudah sepantasnya bagi kita semua ya ikhwah untuk menjaga diri kita… keluarga kita… masyarakat kita… negeri kita… dari kemaksiatan, dosa, keburukan, kesalahan, dan kemunkaran…

September 25, 2009 Posted by | Masalah | Tinggalkan komentar

Kisah Si Tukang Kayu

Seorang tukang kayu baru saja mendapat pekerjaan setelah lama menganggur, dia mendapatkan pekerjaan menebang pohon dihutan untuk membuka lahan pemukiman baru. Di hari pertama bekerja, dia mempersiapkan semua peralatannya termasuk kapak kesayangannya yang sudah diasahnya semalaman dan nampak sekali ketajamannya.

Di hari pertamanya itu dia mampu menebang 10 batang pohon. Dia pun mendapat pujian dan sanjungan dari bosnya. Pujian itu membangkitkan semangat si tukang kayu dan berjanji akan lebih semangat lagi bekerja di hari berikutnya.

Di hari ke dua, si tukang kayu mulai lagi bekerja. Kali ini di berangkat lebih pagi berharap bisa menebang pohon lebih dari yang dilakukannya kemarin. Dengan semangat yang membara dia terus menghujamkan kapaknya dari satu pohon ke pohon lain. Satu persatu pohon-pohon itu tumbang. Sampai dengan hari mulai gelap nampak wajah lesu si tukang kayu. Setelah menghitung jumlah pohon yang di tebang di kecewa karena hanya 9 batang pohon yang mampu dia tebang hari ini. Kekecewaan yang luar biasa, mengingat dia sudah lebih pagi bekerja dengan semangat yang lebih dari hari sebelumnya. Namun semangatnya kembali bangkit dan dia berjanji akan bekerja lebih keras lagi esok hari.

Di hari ketiga, si tukang kayu itupun berangkat dengan penuh semangat. Dia yakin akan lebih baik dari hari kemarin. Setelah seharian bekerja, lagi-lagi dia harus kecewa karena jumlah pohon yang ditebangnya lebih sedikit dari hari-hari sebelumnya. Kali ini ia hanya mampu menebang 6 batang pohon. Kekecewaan yang mendalam tampak di raut wajahnya. Dia merasa sudah berusaha maksimal, namun hasilnya malah jauh dari harapan.

Kemudian dia menghadap Bosnya, setelah dia menceritakan kejadiannya kemudian dia berkata akan berhenti bekerja karena tidak bisa memenuhi target yang dibebankan kepadanya. Si Bos itu tersenyum dan kemudian bertanya apakah si tukang kayu sudah mengasah kapaknya? Seketika itu juga si tukang kayu terperanjat dan seolah-olah tidak percaya. Hal sepenting itu bisa dia lupakan karena saking semangatnya di bekerja.

Semangat dan kerja keras saja tidak cukup, segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan itu harus dipersiapkan dengan baik dan maksimal, termasuk sarana dan prasarana. Walaupun saran dan prasarana yang kita miliki sangat minim namun kita wajib mengoptimalkannya untuk mencapai hasil yang maksimal.

Si tukang kayu tadi melupakan hal yang sangat penting untuk mendukung semagat kerjanya yang keras. Kapak yang menjadi alat utama pekerjaanya terlupakan karena begitu semangatnya dia mencapai hasil terbaik dalam pekerjaannya. Mata kapak yang sering dipakai lama-lama akan tumpul dan tidak maksimal. Begitu juga dengan otak dan hati kita, untuk itu mengistirahatkan dan mengasahnya kembali dengan hal-hal yang positif dan mendekatkan diri kita kepada Yang Maha Kuasa akan mampu merangsang dan mempertajam kerjanya.

September 13, 2009 Posted by | Hikmah | , | Tinggalkan komentar

Suasana “I’tikaf Mobile” di Kereta Bawah Tanah Kairo

Ada yang unik terjadi selama bulan Ramadhan ini di kereta bawah tanah (Metro) di kota Kairo Mesir. Kereta Metro telah menjadi semacam tempat i’tikaf mobile sejak awal bulan Ramadhan berlangsung.

Beberapa penumpang kereta sibuk membaca Al-Quran baik menggunakan mushaf atau membacanya lewat ponsel. Dan sebagian penumpang yang lain menyimak lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang terdengar dari ponsel mereka.

Salah seorang penumpang kereta Metro, Ahmed Attia yang berprofesi sebagai seorang insinyur, meskipun tidak mendapat tempat duduk di kereta bawah tanah dan harus berdiri dengan satu tangan bergelayut di tiang yang terdapat diatas Metro, dirinya tetap dapat membaca ayat-ayat Al-Quran lewat ponselnya. “Kadang-kadang cukup ganjil membaca Al-Quran seperti ini, namun pada bulan Ramadhan ini saya tertarik untuk melakukannya,” ujarnya.

“Dalam bulan suci ini, setiap menit, merupakan waktu yang sangat berharga untuk memperbanyak amal sholeh, dan amal-amal sholeh akan di lipat gandakan berkali-kali, jadi saya harus memanfaatkan waktu selama naik Metro ini dengan membaca Quran dan berusaha mengkhatamkannya, karena saya tidak punya waktu yang cukup tersedia untuk mengkhususkan diri membaca Al-Quran,” tambahnya.

Penumpang lain yang bernama Hassan Ali (guru) mengatakan :”Saya harus dapat mengkhatamkan membaca Al-Quran di bulan Ramadhan ini, karena perjalanan menuju ke tempat pekerjaan saya menghabiskan waktu lebih dari satu setengah jam berkendara dengan angkutan umum kereta bawah tanah ini, saya khawatir waktu saya akan banyak terbuang percuma dan saya tidak mendapatkan pahala apa-apa.”

Berbeda dengan dua orang penumpang tadi, Mustafa Mohamed seorang pegawai negeri, menyatakan bahwa dirinya tidak bisa konsentrasi kalau harus membaca Al-Quran di dalam kereta bawah tanah seperti Metro ini, di mana suara dan kebisingan lalu lintas terdengar jelas, jadi ia lebih memilih menunda membaca Al-Quran sampai saya nanti di dalam masjid atau dirumah.”

Termasuk berkah Ramadhan di dalam kereta bawah tanah Mesir, hilangnya pertengkaran yang sering terjadi di antara para penumpang. Dan untuk menandai datangnya bulan Ramadhan – kereta bawah tanah di Kairo memutar lagu-lagu reliji selama bulan Ramadhan di layar televisi yang terdapat di stasiun kira-kira dan sepuluh menit sebelum masuk waktu untuk berbuka puasa, beberapa anak muda akan berinisiatif membagi-bagikan Ta’jil untuk berbuka bagi para penumpang kereta.(fq/iol)

September 13, 2009 Posted by | Mak News | Tinggalkan komentar

Kisah Hidup Kerang

Pada suatu hari, sebutir pasir tajam memasuki tubuh anak kerang yang merah dan lembek. Anak kerang yang ada di dasar laut itupun mengadu pada ibunya. Kemudian sang ibu berkata sambil bercucuran air mata. ” Anakku, Tuhan tidak memberikan bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah ini sebagai takdir. Kuatkan hatimu “, tutur ibu dari anak kerang itu.

” Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu yang menggigit. Balut pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat “, lanjutnya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang itupun melakukan nasihat ibunya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan kepalang. Kadang ditengah sakitnya, ia meragukan nasehat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadari sebutira mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus.

Rasa sakitpun makin berkurang. Dan semakin lama mutiara semakin besar. Rasa sakit terasa menjadi lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir murtiara pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi kebahagiaan. Hasil deritanya selama bertahun-tahun membuatnya lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan. ( The Balance Ways )

September 12, 2009 Posted by | Motivasi | 1 Komentar

Pria Paling Bodoh Sekalipun Punya Kemampuan Memimpin

Jakarta, Pria dan wanita memang berbeda. Wanita lebih banyak bicara dan pria lebih banyak bertindak, itulah persepsi sebagian orang. Namun dibanding wanita, pria lebih cocok menjadi pemimpin. Bahkan sebodoh-bodohnya pria masih punya kemampuan memimpin dibanding wanita. Kenapa?

Pria dan wanita memang memiliki struktur otak yang berbeda. Sebuah studi dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Hopkins menggunakan fMRI scanner untuk mengetahui perbedaan tersebut.

Dalam jurnal Cerebral Cortex para peneliti memperlihatkan bahwa area otak yang dinamakan Inferior Parietal Lobule (IPL) pada pria umumnya lebih besar ketimbang pada wanita. Area tersebut merupakan bagian dari cerebral cortex dan terdapat di kedua sisi otak diatas kuping.

Psikiater Godfrey Pearlson, MD yang memimpin studi tersebut mengatakan bahwa IPL dikedua sisi tersebut tidak simetris. “Pada pria IPL sebelah kiri lebih besar dibanding kanan. Sedangkan pada wanita IPL sebelah kanan lebih besar dibanding sebelah kiri,” ujar Pearlson seperti dikutip dari Cerebromente, Jumat (11/9/2009).

IPL sebelah kanan erat hubungannya dengan kinerja memori, kemampuan mengartikan bahasa tubuh dan perasaan seseorang. Sedangkan IPL sebelah kiri lebih erat kaitannya dengan persepsi, logika, perkiraan dan kemampuan melihat gambar tiga dimensi atau membaca peta. Bahkan area IPL itulah yang ditemukan dalam otak Einstein dengan ukuran yang sangat besar dan tidak normal.

Mungkin hal ini yang menjelaskan mengapa wanita lebih ahli dalam menguasai bahasa sedangkan pria lebih ahli dalam matematika. Beberapa studi lainnya memang menunjukkan bahwa pria lebih banyak menggunakan otak kirinya sedangkan wanita menggunakan otak kanan. Itulah yang membuat pria lebih cocok menjadi pemimpin.

Pria memecahkan masalah dengan cara-cara yang terstruktur dan penuh logika sedangkan wanita cenderung memecahkan masalah dengan cara-cara yang kreatif dan penuh perasaan. Dalam studi lainnya, Pearlson menunjukkan dua area terpenting di otak yakni frontal dan temporal lobe yang lebih besar terdapat pada wanita.

Neurolog sekaligus Kabid Pemeliharaan Peningkatan Intelegensia Kesehatan Depkes RI, dr Adre Mayza, SpK (K) pun membenarkan hal itu. Sistem limbik fokus alostrum yang terdapat pada bagian frontal dan temporal lobe memang lebih besar pada wanita. Hal itulah yang membuat wanita bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu (multi tasking).

Tapi satu-satunya kelemahan wanita adalah tidak bisa membuat keputusan. “Itulah sebabnya wanita membutuhkan laki-laki untuk memimpin, karena laki-laki paling bodoh sekalipun punya kemampuan untuk memimpin,” ujar Adre.

Kelebihan secara alami itulah yang membuat pria lebih banyak menjadi pemimpin karena seorang pemimpin dituntut untuk bisa menyelesaikan masalah dengan penuh analisis dan harus cepat mengambil keputusan. “Kalau wanita lebih banyak mikir dengan perasaan, jadi susah mengambil keputusan,” ujar Adre.

Tapi Adre juga mengatakan, kemampuan memimpin pada wanita bisa dilatih. “Buktinya ada juga perempuan yang bisa jadi pemimpin, seperti Margaret Thathcer. Itu karena sejak kecil ia memang dididik dan dirangsang otaknya untuk menjadi pemimpin. Tapi persentase wanita seperti itu hanya sedikit, ” tutur Adre. ( Nurul Ulfah – detikHealth )

September 12, 2009 Posted by | Mak News | Tinggalkan komentar

Sifat Dasar Manusia adalah Pemenang

Kegagalan adalah sebuah modal yang besar untuk meraih kesuksesan. Modal itu tidak akan pernah dimiliki oleh orang yang takut mencoba sesuatu. Kegagalan dapat menjadi pelajaran berharga, kegagalan adalah aset kita dalam melakukan sesuatu hal. Termasuk dalam menghadapi permasalahan hidup.

Banyak orang yang putus asa setelah mengalami kegagalan, apalagi kalau kegagalan itu selalu mengikuti apapun yang kita lakukan. Seolah-olah tidak ada lagi harapan, dan akan merasa sebagai pecundang.

Kenapa aku tidak bisa seperti dia?

Kenapa aku tidak seberuntung dia?

Kenapa aku tidak sesukses dia?

Kenapa aku, kenapa aku dan kenapa aku?

Pertanyaan itu adalah ungkapan putus asa. Namun mulai saat ini ubah cara pandang kita.

Jadikan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai tenaga picu yang dahsyat. Yang akan melesatkan dirimu seperti yang kamu inginkan.

Pada dasarnya manusia itu dilahirkan sebagai seorang pemenang, bukan pecundang. Kekurangan dan keterbatasan pada diri kita merupakan yang terbaik yang Allah berikan. Begitu juga dengan kelebihan yang kita miliki. Jangan pernah merasa kita ini tidak mampu menjadi pribadi yang sukses.

Kenapa manusia itu dikatakan sebagai pemenang?

Manusia dilahirkan dari proses bertemunya 1 sperma dan 1 ovum. Dari jutaan sperma hanya 1 sperma yang mampu membuahi ovum. itu bukti manusia itu sudah terbiasa dengan kompetisi bahkan sejak sebelum dilahirkan sekalipun. Kenapa Allah membuat proses pembuahan ovum dengan di ciptakannya berjuta-juta sperma yang saling berkompetisi? Bukankah sangat mudah bagi-Nya hanya membuat 1 sperma untuk bertemu dengan 1 ovum?

Hal itu agar manusia itu berfikir dan berdzikir atas kekuasaan-Nya.

Dari proses itu lahirlah kita dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, namun itu adalah hasil dari sebuah seleksi, kompetisi atau persaingan yang sehat dan tidak ada KKN di dalamnya. maka lahirlah kita sebagai seorang PEMENANG bukan PECUNDANG!!

Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Selama itu hanya mengharap Ridha Allah, InsyaALlah Kesuksesan ada ditangan anda. Baik kesuksesan Dunia maupun Akhirat.

Semoga bermanfaat.

September 10, 2009 Posted by | Motivasi | , , | Tinggalkan komentar

Apakah Pekerjaan Kita Bermanfaat Bagi Orang Lain?

” Seorang Muslim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebagian yang dimakan oleh burung atau manusia ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya.” ( HR Bukhari, Muslim dan Ahmad )

Mungkin nasib kita lebih baik dari mereka yang tidak memiliki pekerjaan. Namun untuk apa kita bekerja?

Mungkin kita berpikir kalau kita bekerja adalah untuk diri kita dan keluarga kita, untuk mencukupi kebutuhan hidup kita dan keluarga kita. Kita akan merasa puas apabila kita mendapatkan hasil yang sepadan dengan apa yang kita kerjakan, termasuk materi. Materi menjadi tolok ukur kita dikatakan berhasil atau sukses dalam bekerja. Tercukupinya semua kebutuhan diri dan keluarga adalah kesuksesan.

Namun apakah kita pernah berfikir apakah pekerjaan kita bermanfaat bagi orang lain?apakah materi yang kita dapatkan juga bermanfaat bagi orang lain?atau bahkan bermanfaat bagi makhluk lain?

Kutipan hadist diatas mengingatkan kita tentang interaksi sosial dan manfaat sosial. Dalam bekerja kita tidak semata-mata berorientasi pada kesuksesan pribadi tetapi bagaimana kita bisa membawa kesuksesan lingkungan sekitar kita. Itulah yang seharusnya manusia lakukan.

Percuma kalau harta kita banyak namun tetangga di samping rumah kita kelaparan. Rumah kita mewah namun tetangga kita kesulitan dalam menyekolahkan anak-anaknya. Mobil kita mewah namun tidak mau membawa tatangga kita yang sakit dan tidak mampu berobat ke rumah sakit karena terkendala biaya. Lalu apa arti kesuksesan kita?

Mulailah menjadi manusia yang bermanfaat dimulai dari lingkungan sekitar kita, itulah kesuksesan yang sebenarnya.

Semoga bermanfaat.Jazakallah Khair

September 10, 2009 Posted by | Hikmah | | 3 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.